dengan awal seperti kisah lainnya, hanya setengah hati. hanya biasa. hanya permainan. mungkin karena aku sungguh tidak tertarik untuk benar benar menggantungkan kisah ku pada seseorang.
dia muncul, dia hadir. berani untuk menjadikan dirinya sosok yang berperan dalam kisahku. seiring waktu entah mengapa hati ini terikat pada satu rasa. aku meminta jawaban pada diri sendiri. kali ini mengapa seperti ini? mengapa aku mempercayainya? mengapa aku benar serius memberikan hati? mengapa rela?. segala pertanyaan terbesit melintas terus menerus. tapi aku meyakinkan diri sendiri bahwa dia memang berbeda.
mengapa berbeda? ya, dia selalu meyakinkan bahwa dirinya benar membutuhkanku, meyakinkan bahwa sosok ku sungguh berarti untuknya. kata kata peringatan selalu terlontar dari nya. peringatan untuk tetap bertahan, untuk tetap sabar menantinya, untuk tetap berada disampingnya. sehingga aku yang tak pernah benar memberikan hati, kini kuberikan untuk seseorang yang ku anggap berbeda, ku anggap memiliki arti besar dalam kisahku.
kepercayaan ini kian muncul terus menerus, bahkan walaupun dia mungkin sedikit tak berkata benar aku coba untuk tetap percaya. aku sudah sangat benar mempercayai dia. diri ini sudah sangat yakin bahwa dia berbeda.
waktu terus berjalan, meninggalkan banyak goresan manis. kini aku sudah tidak memiliki keraguan sedikitpun. bahkan aku menjadi terlalu khawatir bahwa dia disana bersama yang lain.
aku tahu keberadaan dia yang jauh disana akan sangat banyak menghadapi godaan, tapi aku yakin bahwa dia tidak akan melupakan janjinya. aku sangat yakin. walaupun terkadang terfikir ketakutan, tapi segera kutepis.
tak ada hentinya dia kembali mengingatkan bahwa dia sungguh sangat tidak ingin aku menyerah, aku pastinya berbuat yang dia inginkan. kuturuti apa yang dia inginkan.
sudah sangat sulit untuk jauh darinya, sangat sangat sulit. aku dengan perilaku ku yang biasanya tidak seperti ini sangat menganggap bahwa dia memang tidak biasa.
aku bertahan, sungguh sangat bertahan menghadapi semua cobaan. karena ku ingat kata kata yang terlontar darinya,bahwa penantian ku takan sia sia. pasti akan tiba waktunya untuk kita.
suatu hari, dia seperti bukan dia. dia berkata bahwa dia menyerah. aku disini yang selalu tidak terfikir untuk menyerah, mendengar orang yang ia pertahankan berkata ‘menyerah’ tidak bisa terungkap bagaimana hancur dan sakitnya. seketika rapuh, rasanya ingin berteriak. terluka..
kurasa aku sangat berlebihan, sangat sangat berlebihan dalam merasakan kehancuran. tapi aku anggap wajar. karena aku tak pernah percaya untuk benar benar memberikan hati. kucoba untuk bertanya apakah masih bisa dibicarakan?
tapi dia sudah sangat bersikeras untuk menyerah. sekali lagi aku sangat merasa hancur. hancur dan sakit. apakah ucapan dia selama ini tiba tiba menghilang dalam benaknya? apakah janji yang kita buat sudah tidak ada lagi dalam dirinya? aku merenung, aku berfikir. tapi itu tidak membuahkan hasil. ini memang sudah terjadi. aku tidak akan memaksa. ini akan menjadi pelajaran yang sangat sangat berarti.









